STOP DREAMING START ACTION

Posted in MOTIVATION with tags , , on 12 Oktober 2011 by pilarsukses

189160_1008469431667_8321204_nKita sudah sangat terbiasa dan dengan itu, sering dihalangi oleh konsep berpikir klasik yang mengatakan “pikirkan dulu masak-masak sebelum berbuat sesuatu.” Memang maksud ungkapan ini baik, supaya kita tidak bertindak gegabah dalam membuat sebuah keputusan. Akan tetapi, ini kemudian berkembang menjadi sebuah pola atau gaya hidup yang sadar atau tidak telah menjadi penghambat besar bagi banyak orang untuk mulai bertindak melakukan sesuatu. Falsafah ini telah berubah menjadi sebuah monster yang selalu siap berkata, “Jangan dulu sekarang, nanti saja!”, “Tunggu dulu! Apa kamu sudah pikirkan resikonya?”, “Apa nanti kata orang kalau kamu gagal?”, “Ah, itu mustahil bisa terjadi, berhentilah mengejar yang tak mungkin”, “Lebih baik, biar lambat asal selamat.” Nah ini semua adalah alsan-alasan yang sering menjadi pelindung di zona kenyamaan orang. Dapatkah dibayangkan, kondisi ini terjadi terus dalam kehidupan Anda? Stop Dreaming Star Action!
Baca lebih lanjut

Iklan

REFLEKSI PERJALANAN MISI ROBERT ALEXNDER JAFFRAY DI INDONESIA (Pdt. Maarjes Sasela)

Posted in ARTIKEL, MOTIVATION on 11 Februari 2017 by pilarsukses

“Orang ini luar biasa, harus ada orang yang menulis riwayatnya agar generasi berikutnya dapat mengenalnya dan mengingat jasa-jasanya sehingga menjadi dorongan bagi generasi penerusnya.” Ini adalah pernyataan yang diucapkan oleh Jason Stephen Lin murid Jaffray dan penulis buku Dr. R.A. Jaffray Pelayanan dan Karyannya. Pernyataan ini diucapkannya, ketika ia berkunjung ke kuburan Rev. R.A. Jaffray pada tahun 1947. Apa yang dimaksud oleh Jason ketika ia mengomentari sosok Jaffray sebagai orang hebat saat berkunjung di makamnya itu? Dari tulisannya dan tulisan yang ditulis oleh A.W. Tozer, saya temukan bahwa Jaffray merupakan sosok pribadi yang sangat luar biasa, karena beberapa hal berikut ini:

1. Dalam meresponi panggilan TUHAN

Robert Alexander Jaffray, lahir pada tanggal 16 Desember 1873 di Toronto ibu kota Kanada. Ayahnya bernama Robert Jaffray seorang pekerja yang ulet dan tidak kenal menyerah yang berasal dari Skotlandia. Darah Skotlandia yang mengalir di dalam tubuhnya, berasal dari keturunan pekerja keras dan ulet, sehingga meski harus menghadapi tantangan yang berat dalam membangun usahanya, ia tetap kuat berdiri, hingga menjadi pengusaha sukses di Kanada. Dari latar keluarga seperti ini membuat Jaffray secara sosioekonomi bukan biasa-biasa saja, ia berasal dari keluarga yang terbilang kaya dan terhormat. Ayahnya, Robert Jaffray adalah seorang  pengusaha sukses yang bergerak dibidang percetakan dan asuransi dan sampai meninggalnya, Robert Jaffray masih dipercayakan sebagai senator di Kanada. Artinya, keputusan untuk menyerahkan diri masuk di ladang misi bukan didorong oleh maksud untuk mencari popularitas atau materi, melainkan sebuah keputusan yang sadar dan tulus untuk mengabdi di ladang misi.  Jaffray sadar bahwa akibat dari keputusan ini, ia harus berhadapan dengan tantangan yang sangat berat. Beberapa tantangan yang ia hadapi antara lain:

Pertama, tantangan dari diri sendiri, sejak kecil Jaffray memiliki bobot badan yang besar dan ia mengidap penyakit kelainan jantung dan diabetes. Itu sebabnya, orang yang mengenal Jaffray sulit percaya bahwa ia bisa hidup dan melayani di medan pelayanan yang berat dan berisiko tinggi. Tetapi, TUHAN telah membuat Jaffray yang memiliki fisik tidak prima menjadi orang yang hebat dalam pelayanan di ladang yang sangat ekstrim.

Kedua, tantangan dari keluarga. Sebagai orang tua, Robert Jaffray sudah mempersiapkan anak-anaknya, khususnya Jaffray dan kakaknya William untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis dengan susah payah, hingga berhasil. Namun, semua yang terjadi di luar dugaannya. Jaffray ternyata lebih memilih melayani sebagai misionaris di Tiongkok Selatan, dari pada melanjutkan bisnis yang telah dibangun oleh ayahnya. Keputusan ini, langsung menuai reaksi keras dari ayah dan kakaknya. Ayahnya sangat kecewa begitu juga dengan William saudara laki-lakinya. Robert Jaffray memutuskan untuk tidak memberi dukungan finansial kepada Jaffray jika ia tetap pergi ke Tiongkok Selatan. Akan tetapi, ancaman itu sama sekali tidak meredupkan keinginannya untuk menjadi misionaris di Tiongkok Selatan.

Ketiga, tantangan dari lingkungan pelayanan. Ketika terjadi perang  dunia Perancis menguasai Indo-Cina, orang-orang Perancis yang setia dan ingin menguasai Indo-Cina berusaha menjaga Indo-Cina seperti mereka menjaga negaranya sendiri. Akibatnya, para misionari diawasi secara ketat karena mereka dicurigai sebagai mata-mata Jerman. Pada tahun 1892 Rev. A.B.Simpson mengunjungi Tiongkok dan memimpin survey cepat tentang pekerjaan misi di negara itu. Ia mendapatkan bahwa propinsi Kwangsi, sebuah daerah yang terletak di Tiongkok Selatan yang luas serta padat penduduk, bukan saja belum mengenal Terang Injil, tetapi juga sangat menentang penyebaran agama Kristen. Dampaknya terhadap pelayanan misi, semua orang asing yang masuk ke wilayah ini dicurigai. Tentu dalam kesempatan yang sangat terbatas ini, kita tidak dapat menguraikan satu persatu tantangan yang dihadapi oleh para misionaris dan masih banyak tantangan lainnya yang sangat berat yang akan dihadapi oleh para utusan Injil ini. Namun, mereka tidak pernah gentar terhadap tantangan itu. Ketika, Jaffray datang ke Indonesia, ia juga harus berhadapan dengan tantangan yang sangat berat, khususnya dari penjajah Jepang  yang menguasai Indonesia pada waktu itu. Jaffray mengakhiri hidupnya di kamp intermiran Jepang pengungsian pada tanggal 29 Juli 1945.

2. Dalam hal keunggulan spiritualitas

Jangan ditanya soal spiritualitas Jaffray, karena ia telah terbiasa membangun hubungan yang sangat kuat dan intim dengan TUHAN sejak berusia muda. Pada usia enam belas tahun, Jaffray menyerahkan hidup sepenuhnya kepada TUHAN. Panggilan yang terpatri di dalam hatinya itu semakin jelas ketika ia menyerahkan diri untuk melayani TUHAN dan bersedia dibentuk di sekolah pelatihan misionaris yang didirikan oleh Rev. Albert Benyamin Simpson di New York. Sejak masa pembentukan di Sekolah Alkitab yang didirikan oleh Rev. Benyamin Simpson, Jaffray sudah terbiasa dengan disiplin rohani yang ketat. Dalam sejarah perjalanan misi Rev. Alexander Jaffray, ia tidak akan pernah bertindak mengeksekusi misi jika ia belum mendapat “konfirmasi” dari TUHAN yang meyakinkan dirinya untuk melaksanakan misi tersebut. Rev. Alexander Jaffray memiliki kecenderungan kuat untuk selalu bertindak atas keyakinan bahwa TUHAN, menginjinkan rencana misi itu dijalankan. Lin menulis, “Mereka semua mengakui betapa saleh hidupnya dan betapa ia mendalami kehendak TUHAN lebih daripada orang yang lain. jika pada saat awal bekerja masih belum tampak apa-apa, sesudah selesai bekerja, hasil yang menggembirakan pun dapat dilihat. Tidak mengherankan jika setiap orang yang mengenalnya akan merasa kagum karena ia memiliki minyak hikmat di atas kepalanya dan cinta kasih yang murni dalam hatinya sehingga ia mendapatkan kemengan dan kemuliaan yang tidak terhingga.” Seorang Sahabat di pengasingan Jepang yang menjadi akhir dari perjuangan misi Jaffray yang bernama Rev. F.R. Whetzel yang berasal dari utusan Injil Batjan Immanuel Mission. Whetzel adalah orang terakhir yang mendapat kesempatan untuk bercakap dengan Jaffray sebelum pada malam hari 29 Juli 1945, Jaffray menghembuskan nafas yang terakhir. Whetzel menulis, “Salah satu berkat yang besar dalam hidup saya adalah bahwa saya mendapat hak istimewa untuk ditawan bersama-sama dengan Dr. R.A. Jaffray di pulau Sulawesi. Saya mengasihi dia sebagai seorang besar dengan karunia penglihatan dan iman.” Inilah bukti keunggulan spiritualitas Jaffray.

3. Dalam menjalankan tugas kepemimpinan

Dalam hal kepemimpinan, Jaffray memiliki kemampuan yang mumpuni. Beberapa tugas penting yang ia emban semuanya dapat dilakukan dengan baik. sebagai seorang pemimpin yang yakin akan panggilannya, Jaffray tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang dapat memperluas layanan misi. Sebagai seorang pemimpin yang bersandar total pada kasih karunia Allah, Jaffray tidak pernah ragu dengan kondisi fisiknya yang lemah atau dengan kesulitan dana serta beratnya ladang misi yang dihadapi. Baginya kedaulatan Allah tidak dapat dibatasi oleh situasi dan kondisi yang paling berat dan paling ekstrim sekalipun. Salah satu contoh adalah pada waktu Jaffray mendirikan The Chinese Foreign Missionary Union (CFMU). Dalam lembaga inilah para misionaris muda dibentuk dan menjadi pembawa Obor Injil yang berdiri di garis depan pelayanan peabaran Injil. Dari badan misi ini berdirilah gereja-gereja yang kita kenal saat ini yaitu GPMII, Gepekris, dan GKAA yang tersebar dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Pulau Jawa, Pulau Bangka, sampai Belitung. Lin menulis, “Dr. Jaffray bukan saja dikenal sebagai seorang misionaris atau akademisi, melainkan juga seorang pemimpin yang hebat. Kepemimpinan beliau sangat menonjol, dan semua itu ditopang oleh karakter, kompetensi, dan kesediaannya untuk berkorban.”

4. Dalam menangkap, merumuskan dan mengeksekusi visi.

Kemampuan kepemimpinan seorang pemimpin bukan semata-mata terletak pada kemampuan retorikanya, melainkan bagaimana ia dapat mewujudkan visi menjadi kenyataan. Jika saat ini, ada gereja GPMII, Gepekris, GKAA, dan tentunya Gereja Kemah Injil Indonesia yang sudah memiliki sekitar 3000 jemaat, ini bukan terjadi dengan sendirinya, ada sebuah visi yang diyakini diberikan TUHAN untuk dilakukan oleh seorang Jaffray. Lin menulis, “Karena Rev. R.A. Jaffray memiliki hubungan yang erat dengan TUHAN, ia selalu mendapatkan inspirasi dan pandangan yang luar biasa. Bahkan, sebelum berangkat ke Hindia Belanda di Asia Tenggara, ia sudah mendapatkan sebuah visi baru.” Adrianus Harjanto, Ketua Umum MPH GKKA Indonesia berkomentar dipengantar buku yang ditulis oleh Stephen Lin dengan sangat indah menulis, “Visi yang mengglobal dan sentuhan hati beliau yang mendalam telah menggoreskan sebuah karya besar dalam bidang kepemimpinan.”

Penutup

Kini delapan puluh sembilan tahun sudah dilewati oleh Gereja yang merasakan langsung sentuhan pelayanan Jaffray, sebuah karya yang tidak akan pernah sirna dari bumi Pertiwi ini. Gereja Kemah Injil Indonesia, mungkin tidak pernah dibicarakan atau disebutkan dalam forum-forum besar di negeri ini, tetapi Gereja Kemah Injil Indonesia telah ikut mensukseskan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa. Dari pelayanan Jeffray saat ini banyak lahir para pemimpin baik di lingkungan gerejawi, pendidikan teologi dan pendidikan umum, perusahaan swasta, dan pemerintahan. Semua tidak lepas dari jasa pelayanan Rev. Alexander Jaffray.

Jaffray telah tiada, namun sejarah gereja akan mencatat namanya dan akan selalu diingat dari generasi ke generasi bahwa ada seorang yang rela meninggalkan kenyamanan hidup dan memberi diri melayani di daerah yang penuh dengan tantangan. Dari karya pelayanannya itu telah melahirkan pemimpin yang ikut berpartisipasi dalam pembangun bangsa tercinta ini. Kiranya, semangatmu, keberanianmu, terwariskan pada generasi ini dan akan datang. Selamat Ulang Tahun Gereja Kemah Injil Indonesia yang ke-89.

 

THE POWER OF VISION

Posted in MOTIVATION on 17 Desember 2016 by pilarsukses

THE POWER OF VISION (Maarjes Sasela)

Setiap orang adalah pemimpin, minimal ia adalah pemimpin bagi dirinya. Banyak pemimpin baik formal maupun non-formal, gagal menjalankan tugasnya karena mereka tidak memiliki visi yang jelas. Mereka tidak tahu akan dibawa kemana organisasi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang berjalan tanpa visi sama seperti orang buta menuntun orang buta. Visi bagi seorang pemimpin ibarat kompas yang menjadi petunjuk arah kemana nahkoda harus mengarahkan kapalnya. Kompas dapat menjadi salah satu indikator bagi nahkoda untuk membawa kapal sampai tujuan, begitu juga visi bagi seorang pemimpin. Dengan adanya visi, seseorang akan tahu cara berjalan menuju puncak karier, bisnis, politik, olahraga, seni, atau apapun bidang yang sedang digelutinya. Visi yang kuat tidak akan pernah di bawa mati, ketika sang visioner meninggal, visi itu akan tetap hidup sampai suatu ketika visi itu menjadi kenyataan.

Kita semua pasti ingat seorang visioner kulit hitam yang bernama Martin Luther King Jr. Dalam sebuah pidatonya yang sangat terkenal sampai hari ini diberi judul “I Have a Dream”. Pidato yang melegenda ini terkenal dengan pernyataannya yang berkata … “I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slaves owner will be able to sit down together at the table of brotherhood.” (Saya mempunyai mimpi, bahwa suatu hari di bukit yang memerah di Georgia, anak-anak dari bekas budak dan anak-anak dari bekas pemilik budak akan duduk bersama di meja persaudaraan). “I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the colour of their skin but by the content of their character. I have a dream today!” (Saya mempunyai mimpi bahwa keempat anak saya yang kecil suatu hari akan hidup di sebuah negara dimana mereka tidak dinilai dari warna kulitnya, melainkan oleh isi karakter mereka.) Ketika suatu ketika seorang senator berkulit hitam dan pernah menjadi warga Jakarta selama beberapa tahun bernama Barrack Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat pertama, yang bukan berkulit putih, semua teringat akan pidato inspiratif Dr. Martin Luther King di atas. Ia dan mungkin puluhan juta warga Amerika berkulit putih maupun yang berkulit warna lain tidak mengira bahwa impian Dr. King terwujud juga. Impian telah menjadi kenyataan!  (http://www.kompasiana.com)

Orang yang memiliki impian atau visi yang besar, tidak akan pernah berhenti berusaha sampai impiannya menjadi kenyataan, King memang tidak sampai melihat impiannya menjadi kenyataan. Dan mungkin saja pada waktu ia berkata “i have a dream” ada orang yang memandang dengan sebelah mata, sambil bergumam “minggu disiang bolong”. Akan tetapi, hari ini dunia dipaksa mengakui apa yang dikatakan oleh King benar-benar menakjubkan. Amerika tidak saja anak-anak bekas budak dan anak-anak pemilik budak bermain bersama, atau sekadar mendapat perlakuan yang sama dan tidak ada lagi orang dinilai dari warna kulit. Sejarah Amerika bahkan dunia mencatat seorang anak kulit hitam menjadi orang nomor satu di negara adidaya itu.

Banyak orang tidak menyangka bahwa suatu saat kata-kata yang mengandung visi itu menjadi kenyaatan. Sampai pada waktu Barak Husein Obama menjadi presiden Amerika dua periode semua orang baru mengakui bahwa suara kenabian King Jr adalah benar. King Jr, menyampaikan visinya pada 28 Agustus 1963, lima puluh tahun lalu. Pada waktu itu, King berpidato di hadapan sekitar 250 ribu orang kulit hitam yang berkumpul di depan monumen Abraham Lincoln di Kota Washington DC, Amerika Serikat. Ketika itu pula, hanya setengah abad lalu, masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat masih menjadi warga kelas dua. Di bagian selatan negara itu warga kulit hitam tidak boleh naik bus yang dinaiki oleh kulit putih, tidak boleh mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah kulit putih dan tidak boleh masuk restoran khusus untuk kulit putih.  Akan tetapi, 50 tahun kemudian impian King menjadi kenyataan.

Bagi seorang visioner, ini hal yang memang sangat mungkin terjadi, John Sculley, mantan direktur utama Pepsi dan Apple Computer berkata “Masa depan adalah milik mereka yang melihat kemungkinan-kemungkinan sebelum semuanya menjadi kenyataan.” Pembaca yang budiman, apa impian yang Anda harapkan suatu ketika jika bukan Anda maka anak atau anak-anak di negeri ini dapat mencapainya? Bermimpilah yang besar dan kerjakanlah dengan sepenuh hati dan  antusias maka impian itu pasti menjadi kenyataan. John C. Maxwell berkata, “Keberanian seorang pemimpin besar untuk memenuhi impiannya adalah berkat semangatnya bukan posisinya. Salam sukses dengan saya Maarjes Sasela!

 

 

 

Kesaksian – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil Gubernur Jakarta

Posted in RENUNGAN, UMUM with tags , on 14 Januari 2016 by pilarsukses

Orang yang dipakai Tuhan
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.
Ahok.1
Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
http://yehudaministry.blogspot.com/2013/03/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-ahok.html

ANTUSIASME

Posted in MOTIVATION with tags , on 10 Mei 2015 by pilarsukses

Sasela

Sasela

The Power Of Antusias

Kata Antusias itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu En dan Theos, en berarti di dalam dan Theos artinya Tuhan, dengan demikian antusias atau entheos ini mengandung arti di dalam Tuhan atau Tuhan di dalam kita. Dalam bahasa kita sehari kata antusia ini kemudian dihubungkan dengan semangat yang menyala-nyala untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Pemahaman ini sejalan dengan pengertian entheos tadi, dengan kata lain orang yang hidup di dalam Tuhan dan Tuhan hidup di dalam dirinya, pasti kita akan menjadi orang yang sangat antusias memiliki semangat atau keinginan atau minat yang tinggi untuk memandang hidup ini. sebagai angugerah yang tiada terhingga dari sang Pencipta luar biasa bukan?

Inilah kiranya yang menjadi alasan mengapa saya membuat blog ini dengan menggunakan nama antusias-men! Artinya marilah kita memandang hidup ini dengan penuh semangat dan berjuang untuk merubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak lupa saya mengucapkan Salam Kenal dan Salam jumpa bersama saya Marsse……………l
Diposkan oleh Maarjes Sasela Institute di 02.00

APAKAH ANDA INGIN TAHU APA YANG AKAN TERJADI DENGAN ANAK ANDA 40 TAHUN KEMUDIAN?

Posted in ARTIKEL with tags , , , , on 6 Januari 2015 by pilarsukses

December 1, 2014 by Yodhia Antariksa @ Blog Strategi + Manajemen
Satu Rahasia Kunci yang Akan Menebak Kesuksesan Anak Anda 40 Tahun Kemudian
Kids-Show-2014 reSebuah temuan riset yang mengguncang baru-baru ini dirilis oleh tim peneliti dari Harvard Medical School. Riset itu berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya. Ya, responden penelitian itu dipantau terus hingga puluhan tahun lamanya.

Riset itu mau melacak beragam variabel penentu kesuksesan orang – baik dari sisi finansial, kesehatan dan kebahagiaan.

Ada satu variabel temuan yang dengan sangat akurat bisa mempredikasi keberhasilan anak-anak : tingkat keberhasilan, kesehatan dan kebahagiaan apa yang akan dialami anak itu 40 tahun kemudian.

Di pagi ini kita akan membongkar rahasia kunci dari hasil riset yang berlangsung puluhan tahun itu.

Riset yang berlangsung puluhan tahun itu telah berhasil menemukan beragam variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang.

Namun ada satu variabel kunci yang amat mencolok perannya dalam memprediksi tingkat keberhasilan responden : yakni tingkat kedekatan dan kehangatan seseorang dengan ibunya saat ia masih kecil.

Dengan kata lain, tingkat relasi dan kehangatan anak dengan ibunya saat masih kecil, merupakan variabel kunci penentu keberhasilan anak tersebut 40 tahun kemudian.

Terbukti sudah, bahwa relasi anak-anak saat masih kecil dengan ibunya benar-benar berdampak signifikan hingga puluhan tahun ke depan dalam pembentukan sejarah hidup anak tersebut.

Apa implikasi dari temuan riset tim Harvard Medical School itu? Bagi mbak-mbak calon ibu dan juga ibu yang sudah punya anak-anak kecil – dan selama ini bekerja secara full time di kantor; hasil riset itu menghadirkan pertanyaan reflektif.

Apakah ibu-ibu yang bekerja full time di kantor itu masih punya waktu berkualitas untuk membangun relasi yang intim dan hangat dengan anak-anaknya (terutama yang masih berusia dibawah 10 tahun)?

Harus diakui dengan cukup pahit : waktu untuk bekerja di kantor sekarang kian menyita waktu (juga karena jalanan yang makin crowded).

Pergi mulai dari jam 6 pagi (kalau Anda tinggal di Bekasi, mungkin harus lebih pagi lagi). Lalu pulang di rumah jam 6 petang, kadang lebih. Begitu terus tiap hari selama 5 kali seminggu. Jalanan yang macet juga membuat energi sudah habis di jalanan.

Alhasil, anak-anak kecil yang masih di rumah jarang lagi mendapatkan kehangatan dari sang ibu. Anak-anak itu mungkin jadi lebih dekat dengan mbak-mbak asisten rumah tangga atau dengan baby sitter-nya.

Ibu-ibu tangguh yang bekerja full time itu lalu menghadapi dilema : bagaimana menyeimbangkan prioritas antara work and family, antara tugas kantor dengan mengasuh anak-anaknya yang masih kecil (apalagi yang masih perlu ASI).

Sebab ingat : temuan riset Harvard tadi menyebut, tingkat kedekatan anak dan sang ibu akan amat menentukan nasib dan sejarah anak itu 40 tahun kemudian.

Ada dua solusi yang bisa diberikan oleh kantor (perusahaan) yang menyediakan pekerjaan bagi para ibu.

Solusi # 1 : Perusahaan atau kantor tempat bekerja selayaknya menyediakan fasilitas nursing care dan child care yang lengkap dan memadai. Syukur disediakan juga pengasuh anak yang diberikan secara gratis oleh perusahaan (praktek seperti ini lazim di berbagai perusahaan di manca negara).

Dengan fasilitas nursing and child care, ibu-ibu karyawati yang punya anak kecil (atau balita) bisa sesekali membawa anaknya ke kantor (dengan itu ia masih bisa tetap menjalin relasi yang cukup dekat dengan anak-anaknya).

But you know what? 99% lebih perusahaan di Indonesia TIDAK menyediakan nursing and child care buat karyawatinya yang punya anak balita. Bahkan perusahaan mapan seperti Astra, Bank BCA, Adira, hingga organisasi besar seperti Bank Indonesia tidak punya fasilitas nursing/child care yang modern dan lengkap.

Ini ironis. Banyak perusahaan menuntut karyawatinya untuk produktif dan loyal. Namun saat diminta menyediakan fasilitas basic yang bagus (seperti nursing/child care), mereka ogah. Kalau begini, sana gih, perusahaannya pindah saja ke Zimbabwe atau Kongo.

Now, ask yourself : apakah kantor tempat Anda bekerja sudah menyediakan fasilitas nursing and child care yang modern dan dilengkapi dengan kamera CCTV (sehingga ibu-ibu bisa memantau mobilitas anak-anak kecilnya hanya melalui layar smartphone)?

Solusi # 2 : Sediakan kebijakan teleworking bagi ibu-ibu yang kebetulan masih punya anak kecil dan balita. Teleworking kita tahu, adalah kebijakan yang membolehkan karyawan untuk bekerja dari rumah.

Sekarang kita sudah hidup di jaman digital. Amat banyak pekerjaan di kantor yang sebenarnya bisa diselesaikan dari rumah, sepanjang ada koneksi internet.

Survey juga menunjukkan, sepanjang ada target kinerja yang jelas maka kebijakan teleworking justru makin meningkatkan produktivitas karyawannya. Kebijakan ini tentu juga amat membantu mengurangi kemacetan di jalanan.

Dengan kebijakan teleworking, ibu-ibu yang masih punya balita bisa bekerja dari rumah setiap 2 hari seminggu.

Dengan demikian ibu-ibu muda (yang cantik dan tangguh) ini bisa menghemat waktu 2 – 3 jam perjalanan PP ke kantor yang hanya habis di jalanan (kalau rumahnya di Bekasi malah bisa 4 jam pulang pergi, itupun kalau naik roket 🙂 ).

Waktu 3 – 4 jam yang sia-sia di jalanan jauh lebih berharga untuk dihabiskan dengan sang buah hati di rumah. Demi membangun relasi yang hangat dan berkualitas.

Namun kembali, lansekap perusahaan di tanah air punya warna kelam dalam soal kebijakan teleworking. Nyaris tidak ada satu pun perusahaan swasta nasional dan BUMN di tanah air yang merilis kebijakan teleworking bagi para karyawatinya. Ajaib.

Manajer dan Direktur HRD di perusahaan-perusahaan besar itu mungkin sudah menggunakan smartphone atau tablet tercanggih di sakunya. Namun sayang, dalam soal kebijakan teleworking, pola pikir mereka masih primitif. Purbakala.

DEMIKIANLAH, dua solusi yang layak diperhatikan dan diterapkan oleh para pengelola SDM di berbagai perusahaan dan kantor. Anda yang berperan sebagai ibu atau calon ibu harus mendorong manajemen kantor Anda untuk menerapkan dua solusi diatas.

Sebab dengan itu ibu-ibu muda yang tangguh itu – yang rela bekerja full time demi tambahan nafkah – masih bisa punya waktu berkualitas dengan sang buah hatinya di rumah.

Ya, agar anak-anak yang masih kecil itu bisa tumbuh dalam kehangatan ibundanya. Demi masa depan anak-anak. Demi hidup dan sejarah mereka 40 tahun kemudian.

Photo credit by : Kids

– See more at: http://strategimanajemen.net/2014/12/01/satu-rahasia-kunci-yang-akan-menebak-kesuksesan-anak-anda-40-tahun-kemudian/#sthash.g3ZJUkP0.dpuf

Kesaksian – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil (Gubernur) DKI Jakarta

Posted in ARTIKEL, MOTIVATION on 4 September 2014 by pilarsukses

Ahok.2

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
http://yehudaministry.blogspot.com/2013/03/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-ahok.html

REFLEKSI HIDUP DAN KARYA REV. DR. ALEXANDER JAFFRAY Oleh: Maarjes Sasela

Posted in ARTIKEL with tags on 24 April 2013 by pilarsukses

jaffray Mengenal DR. R.A. Jaffray
Robert Alexander Jaffray lahir dari keturunan yang berdarah Skotlandia berkembangsaan Kanada yang lahir dari keluarga Presbriterian. Kakeknya bernama William Jaffray dilahirkan di Thomasland, Skotlandia pada tahun 1790. William menikah pada usia lima puluh tahun dengan Margaret Heug, seorang perempuan yang berperawakan kecil. Setahun setelah pernikahan itu, lahirlah anak pertama mereka di Skeoch rumah pertanian mereka. Selanjutnya, setiap dua tahun mereka dikaruniakan anak-anak lain sehingga jumlah mereka semuanya sembilan orang, dua orang anak perempuan dan tujuh orang anak laki-laki. Kesembilan anak tersebut adalah; Janet, William, Margaret, John, James, Alexander, George, Thomas dan Robert. Ini adalah nama-nama yang lazim di negeri mereka. Dari Sembilan bersaudara tersebut adalah Robert yang kemudian menjadi ayah dari Robert Alexander Jaffray.
Baca lebih lanjut