STOP DREAMING START ACTION


(Marssel)

Kita sudah sangat sering dihalangi oleh konsep berpikir klasik yang mengatakan “pikirkan dulu masak-masak sebelum berbuat sesuatu.” Memang maksud ungkapan ini baik, supaya kita tidak bertindak gegabah dalam membuat sebuah keputusan. Akan tetapi, ini kemudian berkembang menjadi sebuah pola atau gaya hidup yang sadar atau tidak telah menjadi penghambat bagi banyak orang untuk memulai bertindak melakukan sesuatu. Falsafah ini telah berubah menjadi sebuah monster yang selalu siap berkata, “Jangan dulu sekarang, nanti saja!”, “Tunggu dulu! Apa kamu sudah pikirkan resikonya?”, “Apa nanti kata orang kalau kamu gagal?”, “Ah, itu mustahil bisa terjadi”, “Lebih baik, biar lambat asal selamat.” Yah, kalau begini terus bisa-bisa kita semua tergilas oleh perubahan.
Baca lebih lanjut

Kesaksian – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil Gubernur Jakarta


Orang yang dipakai Tuhan
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.
Ahok.1
Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
http://yehudaministry.blogspot.com/2013/03/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-ahok.html

ANTUSIASME


Sasela

Sasela

The Power Of Antusias

Kata Antusias itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu En dan Theos, en berarti di dalam dan Theos artinya Tuhan, dengan demikian antusias atau entheos ini mengandung arti di dalam Tuhan atau Tuhan di dalam kita. Dalam bahasa kita sehari kata antusia ini kemudian dihubungkan dengan semangat yang menyala-nyala untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Pemahaman ini sejalan dengan pengertian entheos tadi, dengan kata lain orang yang hidup di dalam Tuhan dan Tuhan hidup di dalam dirinya, pasti kita akan menjadi orang yang sangat antusias memiliki semangat atau keinginan atau minat yang tinggi untuk memandang hidup ini. sebagai angugerah yang tiada terhingga dari sang Pencipta luar biasa bukan?

Inilah kiranya yang menjadi alasan mengapa saya membuat blog ini dengan menggunakan nama antusias-men! Artinya marilah kita memandang hidup ini dengan penuh semangat dan berjuang untuk merubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak lupa saya mengucapkan Salam Kenal dan Salam jumpa bersama saya Marsse……………l
Diposkan oleh Maarjes Sasela Institute di 02.00

APAKAH ANDA INGIN TAHU APA YANG AKAN TERJADI DENGAN ANAK ANDA 40 TAHUN KEMUDIAN?


December 1, 2014 by Yodhia Antariksa @ Blog Strategi + Manajemen
Satu Rahasia Kunci yang Akan Menebak Kesuksesan Anak Anda 40 Tahun Kemudian
Kids-Show-2014 reSebuah temuan riset yang mengguncang baru-baru ini dirilis oleh tim peneliti dari Harvard Medical School. Riset itu berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya. Ya, responden penelitian itu dipantau terus hingga puluhan tahun lamanya.

Riset itu mau melacak beragam variabel penentu kesuksesan orang – baik dari sisi finansial, kesehatan dan kebahagiaan.

Ada satu variabel temuan yang dengan sangat akurat bisa mempredikasi keberhasilan anak-anak : tingkat keberhasilan, kesehatan dan kebahagiaan apa yang akan dialami anak itu 40 tahun kemudian.

Di pagi ini kita akan membongkar rahasia kunci dari hasil riset yang berlangsung puluhan tahun itu.

Riset yang berlangsung puluhan tahun itu telah berhasil menemukan beragam variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang.

Namun ada satu variabel kunci yang amat mencolok perannya dalam memprediksi tingkat keberhasilan responden : yakni tingkat kedekatan dan kehangatan seseorang dengan ibunya saat ia masih kecil.

Dengan kata lain, tingkat relasi dan kehangatan anak dengan ibunya saat masih kecil, merupakan variabel kunci penentu keberhasilan anak tersebut 40 tahun kemudian.

Terbukti sudah, bahwa relasi anak-anak saat masih kecil dengan ibunya benar-benar berdampak signifikan hingga puluhan tahun ke depan dalam pembentukan sejarah hidup anak tersebut.

Apa implikasi dari temuan riset tim Harvard Medical School itu? Bagi mbak-mbak calon ibu dan juga ibu yang sudah punya anak-anak kecil – dan selama ini bekerja secara full time di kantor; hasil riset itu menghadirkan pertanyaan reflektif.

Apakah ibu-ibu yang bekerja full time di kantor itu masih punya waktu berkualitas untuk membangun relasi yang intim dan hangat dengan anak-anaknya (terutama yang masih berusia dibawah 10 tahun)?

Harus diakui dengan cukup pahit : waktu untuk bekerja di kantor sekarang kian menyita waktu (juga karena jalanan yang makin crowded).

Pergi mulai dari jam 6 pagi (kalau Anda tinggal di Bekasi, mungkin harus lebih pagi lagi). Lalu pulang di rumah jam 6 petang, kadang lebih. Begitu terus tiap hari selama 5 kali seminggu. Jalanan yang macet juga membuat energi sudah habis di jalanan.

Alhasil, anak-anak kecil yang masih di rumah jarang lagi mendapatkan kehangatan dari sang ibu. Anak-anak itu mungkin jadi lebih dekat dengan mbak-mbak asisten rumah tangga atau dengan baby sitter-nya.

Ibu-ibu tangguh yang bekerja full time itu lalu menghadapi dilema : bagaimana menyeimbangkan prioritas antara work and family, antara tugas kantor dengan mengasuh anak-anaknya yang masih kecil (apalagi yang masih perlu ASI).

Sebab ingat : temuan riset Harvard tadi menyebut, tingkat kedekatan anak dan sang ibu akan amat menentukan nasib dan sejarah anak itu 40 tahun kemudian.

Ada dua solusi yang bisa diberikan oleh kantor (perusahaan) yang menyediakan pekerjaan bagi para ibu.

Solusi # 1 : Perusahaan atau kantor tempat bekerja selayaknya menyediakan fasilitas nursing care dan child care yang lengkap dan memadai. Syukur disediakan juga pengasuh anak yang diberikan secara gratis oleh perusahaan (praktek seperti ini lazim di berbagai perusahaan di manca negara).

Dengan fasilitas nursing and child care, ibu-ibu karyawati yang punya anak kecil (atau balita) bisa sesekali membawa anaknya ke kantor (dengan itu ia masih bisa tetap menjalin relasi yang cukup dekat dengan anak-anaknya).

But you know what? 99% lebih perusahaan di Indonesia TIDAK menyediakan nursing and child care buat karyawatinya yang punya anak balita. Bahkan perusahaan mapan seperti Astra, Bank BCA, Adira, hingga organisasi besar seperti Bank Indonesia tidak punya fasilitas nursing/child care yang modern dan lengkap.

Ini ironis. Banyak perusahaan menuntut karyawatinya untuk produktif dan loyal. Namun saat diminta menyediakan fasilitas basic yang bagus (seperti nursing/child care), mereka ogah. Kalau begini, sana gih, perusahaannya pindah saja ke Zimbabwe atau Kongo.

Now, ask yourself : apakah kantor tempat Anda bekerja sudah menyediakan fasilitas nursing and child care yang modern dan dilengkapi dengan kamera CCTV (sehingga ibu-ibu bisa memantau mobilitas anak-anak kecilnya hanya melalui layar smartphone)?

Solusi # 2 : Sediakan kebijakan teleworking bagi ibu-ibu yang kebetulan masih punya anak kecil dan balita. Teleworking kita tahu, adalah kebijakan yang membolehkan karyawan untuk bekerja dari rumah.

Sekarang kita sudah hidup di jaman digital. Amat banyak pekerjaan di kantor yang sebenarnya bisa diselesaikan dari rumah, sepanjang ada koneksi internet.

Survey juga menunjukkan, sepanjang ada target kinerja yang jelas maka kebijakan teleworking justru makin meningkatkan produktivitas karyawannya. Kebijakan ini tentu juga amat membantu mengurangi kemacetan di jalanan.

Dengan kebijakan teleworking, ibu-ibu yang masih punya balita bisa bekerja dari rumah setiap 2 hari seminggu.

Dengan demikian ibu-ibu muda (yang cantik dan tangguh) ini bisa menghemat waktu 2 – 3 jam perjalanan PP ke kantor yang hanya habis di jalanan (kalau rumahnya di Bekasi malah bisa 4 jam pulang pergi, itupun kalau naik roket🙂 ).

Waktu 3 – 4 jam yang sia-sia di jalanan jauh lebih berharga untuk dihabiskan dengan sang buah hati di rumah. Demi membangun relasi yang hangat dan berkualitas.

Namun kembali, lansekap perusahaan di tanah air punya warna kelam dalam soal kebijakan teleworking. Nyaris tidak ada satu pun perusahaan swasta nasional dan BUMN di tanah air yang merilis kebijakan teleworking bagi para karyawatinya. Ajaib.

Manajer dan Direktur HRD di perusahaan-perusahaan besar itu mungkin sudah menggunakan smartphone atau tablet tercanggih di sakunya. Namun sayang, dalam soal kebijakan teleworking, pola pikir mereka masih primitif. Purbakala.

DEMIKIANLAH, dua solusi yang layak diperhatikan dan diterapkan oleh para pengelola SDM di berbagai perusahaan dan kantor. Anda yang berperan sebagai ibu atau calon ibu harus mendorong manajemen kantor Anda untuk menerapkan dua solusi diatas.

Sebab dengan itu ibu-ibu muda yang tangguh itu – yang rela bekerja full time demi tambahan nafkah – masih bisa punya waktu berkualitas dengan sang buah hatinya di rumah.

Ya, agar anak-anak yang masih kecil itu bisa tumbuh dalam kehangatan ibundanya. Demi masa depan anak-anak. Demi hidup dan sejarah mereka 40 tahun kemudian.

Photo credit by : Kids

– See more at: http://strategimanajemen.net/2014/12/01/satu-rahasia-kunci-yang-akan-menebak-kesuksesan-anak-anda-40-tahun-kemudian/#sthash.g3ZJUkP0.dpuf

Kesaksian – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil (Gubernur) DKI Jakarta


Ahok.2

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
http://yehudaministry.blogspot.com/2013/03/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-ahok.html

REFLEKSI HIDUP DAN KARYA REV. DR. ALEXANDER JAFFRAY Oleh: Maarjes Sasela


jaffray Mengenal DR. R.A. Jaffray
Robert Alexander Jaffray lahir dari keturunan yang berdarah Skotlandia berkembangsaan Kanada yang lahir dari keluarga Presbriterian. Kakeknya bernama William Jaffray dilahirkan di Thomasland, Skotlandia pada tahun 1790. William menikah pada usia lima puluh tahun dengan Margaret Heug, seorang perempuan yang berperawakan kecil. Setahun setelah pernikahan itu, lahirlah anak pertama mereka di Skeoch rumah pertanian mereka. Selanjutnya, setiap dua tahun mereka dikaruniakan anak-anak lain sehingga jumlah mereka semuanya sembilan orang, dua orang anak perempuan dan tujuh orang anak laki-laki. Kesembilan anak tersebut adalah; Janet, William, Margaret, John, James, Alexander, George, Thomas dan Robert. Ini adalah nama-nama yang lazim di negeri mereka. Dari Sembilan bersaudara tersebut adalah Robert yang kemudian menjadi ayah dari Robert Alexander Jaffray.
Baca lebih lanjut

9 HUKUM MENUJU TRANSFORMASI HIDUP


018
Bacaan wajib bagi mereka yang ingin mengalami perubahan hidup yang radikal di dalam Kristus.
(Oleh: Maarjes Sasela)

PENGANTAR
Beberapa tahun terakhir ini banyak orang-orang menyebut kata transformasi. Mulai dari orang-orang yang berbicara mengenai kondisi negeri ini yang carut-marut, hingga orang-orang percaya yang berbicara mengenai keadaan dan keberadaan gereja-gereja yang hadir di bumi pertiwi ini. Hampir semua orang ingin berbicara tentang sebuah transformasi suatu bangsa yang bernama Indonesia, entah dipahami dengan benar atau tidak mengenai kata tranformasi ini. Demikian juga di kalangan gereja, baik gereja yang beraliran Pentakosta dan Kharismatik sampai kaum Injili ramai-ramai ingin bersuara agar terjadi transformasi Indonesia. Sampai disini kita tidak mempersoalkan hal itu, karena di negeri ini masih menghargai kebebasan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat. Agar tidak tersesat, sebaiknya dipahami dulu arti dan defini dari kata ini.

DEFINISI
Dalam bahasa Inggris kata ini disebut transformation yang berarti perubahan bentuk. Dalam KBBI disebut transformasi yang mengandung arti perubahan rupa, ini bisa juga dipahami sebagai perubahan bentuk, sifat, fungsi, dsb. Secara semantik, transformasi atau transformation ini berasal dari kata “trans” dan “form”. Trans berarti dari satu sisi ke sisi lainnya (across), atau melampaui (beyond). Form yang diterjemahkan sebagai bentuk. Dengan demikian maka transformasi dapat berati perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar. Dengan melihat definisi di atas maka kata transformasi lebih jauh dipahami sebagai perubahan dari dalam diri seseorang, sekelompok, atau masyarakat yang meluap ke dalam perilaku.

TINJAUAN TEOLOGIS
Ternyata kata transformasi memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan misi gereja. Dengan mengutip tulisan Vinay Samuel dan Chris Sugden, Ery Prasadja menulis “Transformasi adalah misi gereja (Mission ‘of the Church’ as transformation)”. Transformasi adalah Visi Tuhan mengenai gereja/masyarakat/bangsa (God’s vision of society). Transformasi adalah perubahan dari keberadaan/keadaan manusia yang bertentangan tujuan Tuhan (di dalam menciptakan manusia dan dunia ini) kepada keberadaan/keadaan dimana manusiamampu untuk menikmati kehidupan di dalam hubungan yang harmonis dengan Tuhan.(Yoh. 10:10; Kol. 3:8-15; Ef. 4:13).

Akan tetapi, konsep transformasi tidak sesederhana penjelasan di atas ini. Konsep transformasi sebagaimana dijelaskan oleh Ery Prasadja, bahwa; Konsep transformasi lebih luas dari konsep penginjilan. Konsep transformasi tidak membatasi diri dengan hanya mengubah manusia berdosa menjadi manusia lahir baru. Transformasi adalah mengubah atau mengembalikan manusia kepada harkat dan martabatnya sesuai dengan maksud Tuhan ketika manusia itu diciptakan. Transformasi mengembalikan manusia ke dalam keadaan di mana hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia lain, dengan masyarakat, dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri dipulihkan. … Fokus transformasi adalah (1) pemulihan harkat dan martabat individu manusia, dan (2) pemulihan hubungan/rekonsiliasi. Beranjak dari penjelasan di atas maka pertanyaan penting disini adalah:

DARI MANA TRANSFORMASI DIMULAI?
Semua menginginkan perubahan ke arah lebih baik, tapi pertanyaan pentingnya adalah dari mana kita mulai? Sampai kini, gereja terus berdoa agar terjadi transformasi di negeri tercinta ini. Itu baik, tapi saya berpikir lebih sederhana bahwa transformasi bangsa ini pasti akan terjadi bila dimulai dari: diri sendiri, dari hal-hal yang kecil, dari lingkungan dimana kita ada dan dari apa yang ada pada kita. Mengapa kita terlalu memikirkan yang terlampau besar, sedangkan hal-hal yang kecil terabaikan. Bukankah Alkitab berkata: “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”. Inilah alasan saya meyakini bahwa transformasi pada bangsa ini dapat terjadi jika kesadaran itu dimulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, lingkungan tempat kita tinggal, kerabat dan sahabat kita baru pengaruhnya akan sampai kepada bangsa ini. Sama halnya dengan misi, dimulai dari Yerusalem, kemudian ke Yudea, lalu Samaria baru kemudian merambat sampai ke ujung dunia (Kis. 1:8). Injil tidak akan pernah sampai ke ujung bumi jika tidak dimulai di Yerusalem dan dari satu orang yang bernama Kristus yang mempersiapkan dua belas rasul. Sekarang bukan satu negara dipulihkan, tetapi bangsa-bangsa dipulihkan. Tahun 2013, bangsa ini akan dipulihkan jika setiap orang percaya mau mulai melakukan transformasi diri.

MENUJU TRANSFORMASI HIDUP
Berikut saya akan sampaikan tentang langkah-langkah menuju tranformasi diri. Setiap orang bisa mengalaminya, ini adalah kabar gembira buat. Akan tetapi kabar buruknya, kita tidak akan pernah mengalami transformasi karena ada penghambat besar, yaitu “dosa”. Ini menjadipenghambat bagi kita untuk bisa berpikir benar, berbicara benar, dan bertindak atau bersikap benar. Berikut akan saya sampaikan jalur menuju transformasi diri:
Pertama, Semua Orang Berdosa; kita harus menyadari bahwa kita semua tidak terkecuali, semua berada dibawa natur dosa. Paulus dengan jujur menulis, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. (Rm. 3:23)
Kedua, Konsekwensi Dosa; akibat dari dosa maka konsekwensinya ada kita hidup dalam penderitaan fisik. Ini adalah warisan dari Adam dan Hawa bunda moyang kita yang dengan sengaja telah melnggar apa yang Tuhan larang. (Kej. 3:1-24). Tidak sampai disitu, pada akhirnya setiap orang harus memberi pertanggungan jawab atas segala yang ia perbuat dihadapan tahta pengadilan Allah. Paulus menulis, “Demikianlah setiap orang di antara akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”. (Rm. 14:12). Lalu pada akhirnya masing-masing akan menerima ganjarannya. Yang tidak membiarkan dirinya diubahkan oleh Kristus dan tetap hidup dalam dosa, ganjarannya adalah kematian abadi atau kebinasaan. Paulus menulis, “Upah dosa ialah maut, …” (Rm. 6:23a). Ini berita buruknya, tapi Anda tidak perlu kuatir masih ada waktu, Anda belum terlambat, karena masih ada berita baiknya. Pau;lus melanjutkan tulisannya, demikian “… Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. (Rm. 6:23b). Bagaimana caranya Anda sampai pada keyakinan akan hidup yang kekal itu? ini dia caranya:
Ketiga, Akuilah; bahwa kita orang berdosa dan kita membutuhkan juruselamat, yaitu Kristus Yesus Tuhan untuk menjadi Tuhan dan juruselamat pribadi Anda.
Kempat, Percaya; Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan itu baik, tetapi iblis juga percaya, bahkan Alkitab berkata ia gemetar saking percayanyanya. “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan juga percaya dan mereka gemetar”. (Yak. 2:19). Kalau demikian apa bedanya kepercayaan kita dengan kepercayaan setan dan antek-anteknya? Disini perbedaannya:
Kelima, Menerima; disinilah letak perbedaannya, setan percaya, tetapi dia tidak memperoleh kesempatan untuk menerima keselamatan di dalam Kristus. Kita masih memiliki kesempatan besar untuk percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Yohanes menulis demikian; “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya, dibri-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. (Yoh. 1:11-12).
Keenam, Jaminan (1); Setiap orang yang percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi-Nya, jaminannya adalah: menerima kepastian hidup yang kekal. Yohanes menulis, “Aku (Kristus) berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. (Yoh. 6:47)
Ketujuh, Jaminan (2) Berbicara tentang hidup yang kekal atau abadi di dalam surga maka di dalam Kristus tidak ada kata “mudah-mudahan” selamat, melainkan pasti. Ingat! PASTI SELAMAT bukan MUDAH-MUDAHAN SELAMAT, Yohanes menulis: “DAN Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”. (Yoh. 10:28).
Kedelapan, Dasar Keyakinan, Di dalam Kristus tidak ada kata mudah-mudahan untuk keselamatan hidup yang akan datang, melainkan PASTI. Mengapa? Didunia ini, banyak orang mencari jaminan keselamatan dan mereka akan berkata kepada Allah. “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar itu”. Ini adalah permohonan yang tulus dan berkenan kepada Allah/ Akan tetapi, apa jawabannya? Sampai hari ini, permohonan itu tetap terus disampaikan. Mengapa karena belum ada jawabannya. Pada lebih dari 2000 tahun ada rahasia yang masih terpendam bagi banyak mereka yang mencari kebenaran, dan saya merasa berdosa jika saya tidak berterus terang mengatakannya, bahwa jawabannya ada pada Yesus Kristus Tuhan kita. Yohanes menulis 2000 tahun yang lalu, kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa (Allah), kalau tidak melalui Aku”. (Yoh. 14:6)
Kesembilan, Buat Keputusan; Kita percaya bahwa Allah ada, itu baik, tetapi percaya saja tidak cukup karena setan pun percaya (Yak. 2:19). Lalu apa yang harus kita buat? Bertindaklah dengan iman untuk membuka hati dan menerima Dia (TUHAN Yesus Kristus) di dalam hati dan menjadikan-Nya menjadi penguasa tunggal dalam hidup kita. Atau dengan kata lain, menerima Dia (Yesus Kristus) menjadi satu-satu Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Yah, sekarang! n Alkitab berkata; “Demikian juga halnya dengan iman; Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”. Kita percaya, tetapi kita tidak bertindak untuk menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi kita, iman kita itu pada hakekatnya adalah mati. Alkitab menulis bahwa berita yang Anda baca ini adalah berita yang sangat baik, karena berita ini memberi petunjuk bahwa Yesus Kristus sedang berdiri dipintu hati Anda, dan Ia mengetuk sambil berkata: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wah. 3:20)

Kebenaran di atas ini mau menunjukkan bahwa peluang anugerah bagi saudara sedang terbuka dihadan Anda saat ini juga! Jika Anda percaya dan mau membuka pintu hati Anda untuk menerima-Nya menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda; sekaranglah waktunya! Jangan tunda! karena kita tidak tahu hari esok hidup kita akan menjadi seperti apa. Sekali lagi, JANGAN TUNDA! Bergegaslah cari seorang hamba Tuhan (pendeta atau gembala sidang Anda, atau pembimbing rohani Anda) pergilah kepadanya dan minta ia menuntun Anda untuk menerima Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda! Tetapi jika tidak, ambillah sikap iman Anda dan katakan dengan iman Anda, seperti doa berikut ini:

Katakanlah dengan iman Anda!
Tuhan Yesus, saya sudah membaca pelajaran ini dan saya percaya bahwa Engkau menyediakan anugerah hidup yang kekal kepada setiap orang yang mau percaya dan menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Hari ini, dengan sadar saya mengundang Engkau untuk masuk dan bertahta di dalam hati saya dan menjadi Tuhan dan Juruselamat saya pribadi mulai hari ini sampai Engkau datang menjemput saya. Dan catatlah nama saya dalam Kitab Kehidupan satu kali untuk selama-lamanya dan saya percaya alam maut tidak dapat merampas saya dari tangan-Mu. Ampunilah segala dosa dan kesalahan saya, dan biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa memimpin hidup saya dari sekarang sampai selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya berdoa dan percaya bahwa keselamatan telah terjadi di dalam hidup saya, Amin.

Anda baru saja menerima HADIAH HIDUP KEKAL yang tidak dapat diberikan dunia ini kepada Anda. Alkitab berkata: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia (Tuhan Yesus Kristus) akan datang dalam kemuliaan Bapa diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”. (Mat. 16:26-27). Puji Tuhan, sekarang saya harus berkata waooohhhh gitu lhooooo….. kepada Anda, karena Anda telah menerima HIDUP YANG KEKAL ITU. Selamat memasuki transformasi hidup yang sesungguhnya. Tuhan Yesus memberkati.

Bila Anda memiliki pertanyaan atau ingin dukungan doa dari kami, Anda dapat menghubungi saya di layanan telepo: 0813 55860 555 atau 0852 1313 1995 atau mengirimnya melalu e-mail: marsseljkt@yahoo.co.id dan jangan lupa beri komentar Anda di http://www.pilarsukses.wordpress.com Tuhan Yesus memberkati.

9 CARA CERDAS MENGGAPAI SUKSES DITAHUN 2013 (Oleh: Maarjes Sasela)


9 CARA CERDAS MENGGAPAI SUKSES DITAHUN 2013
(Oleh: Maarjes Sasela)

Ada yang tidak dapat kita hindari yang sedang terpampang di depan mata kita saat ini, yaitu bahwa tahun 2012 dengan semua kenangan manis atau pahit pasti akan berlalu. Dan ada pula yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun kecuali jika kematian menjemputnya sebelum memasuki tahun 2013. Kedua fakta ini adalah PASTI.
Lalu sebelum mengakiri tahun 2012 kita semua biasanya akan mengingat kenagnagan ditahun tersebut lalu ada yang dengan sadar melakukan evaluasi, introspeksi, atau koreksi diri. Ini tindakan yang sangat baik. Kita mulai memikirkan apa yang sudah kita lakukan baik yang bersifat untuk kepentingan diri dan keluarga (pekerjaan, karier, atau usaha) atau intuk pelayanan gereja dan kemanusiaan. Semua kita buat dengan harapan agar tahun 2013 nanti kita tidak mengulang kesalahan dan dapat berbuat jauh lebih baik dari tahun 2012. Baca lebih lanjut