SETELAH LIMA RATUS TAHUN REFORMASI GEREJA 2 (Oleh: Pdt. Maarjes Sasela)


Dampak Gerakan Reformasi Terhadap Pertumbuhan Gereja.  

Reformasi telah memberi angin segar bagi pertumbuhan gereja yang cepat dan signifikan. Gerakan reformasi, mendorong kaum Protestan melakukan terobosan yang sangat luar biasa, Alkitab diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, lahir gereja-gereja yang beraliran Lutheran, Calvinis (Reformed, Presbiterian), Injili (Evangelis), Anglikan (Episcopal), Methodis, Pentakosta, dan lain-lain. Dapat dikatakatan reformasi bukan saja menyulut api perubahan terhadap sistem pemerintahan gereja yang korup dan manipulatif, tetapi juga menjadi penyulut api penginjilan yang sangat luar biasa untuk menjangkau dunia bagi Kristus.

Para reformator seperti Luther, Swingli,  Calvin, dan  lai-lain, adalah orang-orang yang telah melewati pergumulan teologis yang sangat ketat dan berat dan yang berhasil meletakkan dasar baru yang begitu kuat untuk membangun kehidupan rohani dan sistem pemerintahan gereja yang sesuai dengan Alkitab sebagai Firman Allah. Para reformator ini, rela menghadapi tantangan dan tekanan dari penguasa pada waktu itu dan mereka berhasil membuktikan diri bahwa mereka mereka melakukan semua itu dengan ketulusan dan kejujuran serta komitmen yang tinggi agar gereja kembali setia kepada Allah dan Firman-Nya.

Kondisi Gereja Setelah 500 Tahun Reformasi

Gerakan reformasi sudah mencapai usia lima ratus tahun, suatu usia yang sangat panjang, namun apa yang terjadi dengan gereja saat ini setelah lima ratus tahun reformasi berlangsung, apakah api reformasi itu masih menyala atau sudah redup dan hampir padam? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, tetapi kiranya pertanyaan ini dapat mendorong kita untuk melakukan kajian lebih dalam mengenai gereja dan perkembangannya setelah lima ratus tahun reformasi.

Jika kita melihat kondisi gereja saat ini dan mau jujur maka secara organisasi gereja saat ini tidak lebih baik dari masa sebelum reformasi, bahkan gereja di negara-negara yang notabene gerakan reformasi pertama digaungkan dan paling merasakan sentuhan gerakan reformasi itu (negara-negara Eropah) saat ini megalami kemunduran yang sangat tajam. Saat ini, Eropah tidak lagi dapat dikatakan negara dengan populasi Kristen terbanyak, bahkan banyak gedung gereja yang berubah fungsi dan jumlah anggota jemaat yang terus merosot dengan jumlah yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan karena masyarakat Kristen Eropah mengalami degradasi iman dan hal semakin diperburuk dengan sikap para klerus yang tidak dapat menjadi teladan.

Di negara kita, hari ini kantong-kantong Kristen mengalami krisis iman yang mengakibatkan gereja kehilangan anggotanya. Ada beberapa penyebab yang memengaruhi kondisi ini, antara lain karena pernikahan dengan orang yang tidak seiman, tetapi ini jumlahnya tidak banyak; karena pengaruh pergaulan, inipun jumlahnya relatif sedikit; yang paling signifikan adalah karena masalah kemiskinan. Kondisi kehidupan masyarakat gereja yang berada dalam lingkaran kemiskinan ini telah menjadi penyebab munurunnya jumlah anggota jemaat. Sayang sekali tidak semua gereja bersedia menyisihkan uangnya untuk membantu gereja yang jemaatnya masih berada di bawah garis kemiskinan.

Sementara dipihak lain, banyak gereja hanya sibuk mengurus diri sendiri, para pendeta dan hamba-hamba Tuhan sibuk berebut mimbar bagi kepentingan dirinya sendiri. Panggung gereja bukan lagi menjadi tenpat suci dimana Injil diberitakan dengan tulus iklas, panggung gereja telah berubah menjadi ajang mempopulerkan diri, bagaikan ajang pencarian bakat yang diadakan oleh beberapa stasiun televisi tanah air. Banyak gereja kehilangan identitas diri, karena takut kehilangan anggota jemaat, acara-acara yang dibuat lebih banyak mengadopsi gaya duniawi, kadang-kadang gereja terlihat, maaf seperti “night club”. Saya teringat sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh group band legendaris dari wilayah Timur Indonesia yakni Black Brothers yang berkata, “… sadarlah kau cara hidupmu, yang hanya menelan korban yang lain, bintang jatuh hari kiamat, pengadilan yang penghabisan”.

Sudah saatnya gereja melakukan melakukan refleksi dan introspeksi diri mendalam mengenai penginjilan dilakukan sejak zaman para zending, tidak melihat konteks masyarakat yang dilayani. Jika pendekatan pekabaran Injil selama ini hanya menekankan pada unsur teologisnya maka sekarang saatnya melakukan perubahan. Dengan memahami konteks pelayanan kepada masyarakat Indonesia di pedesaan dan pedalaman, yang notabene masih hidup dibawah garis kemiskinan, seharusnya gereja menyadari bahwa ini masalah kita yang harus kita atasi bersama. Jika dulu para zending atau misionari yang datang hanya membawa Injil maka sekarang sudah saatnya gereja membawa perlengkapan lain untuk melengkapi jemaat menjadi terampil, misalnya dalam bercocok tanam, beternak, mengolah sendiri bahan makanan untuk dapat dijual dan cara bagaimana mereka mengolah dan meningkatkan ekonomi jemaat.

Bagaimana jemaat dan hamba Tuhan dapat melayani dengan tenang jika mereka hanya mendapat konsumsi rohani, sementara perut mereka dan anak-anak mereka lapar. Sudah saatnya, kita memikirkan kembali gereja yang sesuai dengan nafas dan cita-cita reformasi. Kiranya tulisan pendek ini dapat menjadi api untuk menyulut semangat kita melayani Tuhan dalam konteks dan dengan cara yang tepat.

Secara pribadi saya mempersembahkan tulisan ini, kepada para hamba Tuhan, aktivis gereja dan para pelayan Tuhan secara umum untuk dapat menjadi kesempatan memberi dorongan bagi para pelayan TUHAN untuk terus mengobarkan api reformasi dalam dengan cara semakin giat memberitakan kasih karunia Allah melalui dan di dalam TUHAN Yesus Kristus serta melakukan pembinaan sehingga jemaat dapat menjadi terampil dalam mengelolah sumber daya alam dan sumber daya manusianya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: