Archive for the ‘MOTIVATION’ Category

REFLEKSI PERJALANAN MISI ROBERT ALEXNDER JAFFRAY DI INDONESIA (Pdt. Maarjes Sasela)


“Orang ini luar biasa, harus ada orang yang menulis riwayatnya agar generasi berikutnya dapat mengenalnya dan mengingat jasa-jasanya sehingga menjadi dorongan bagi generasi penerusnya.” Ini adalah pernyataan yang diucapkan oleh Jason Stephen Lin murid Jaffray dan penulis buku Dr. R.A. Jaffray Pelayanan dan Karyannya. Pernyataan ini diucapkannya, ketika ia berkunjung ke kuburan Rev. R.A. Jaffray pada tahun 1947. Apa yang dimaksud oleh Jason ketika ia mengomentari sosok Jaffray sebagai orang hebat saat berkunjung di makamnya itu? Dari tulisannya dan tulisan yang ditulis oleh A.W. Tozer, saya temukan bahwa Jaffray merupakan sosok pribadi yang sangat luar biasa, karena beberapa hal berikut ini:

1. Dalam meresponi panggilan TUHAN

Robert Alexander Jaffray, lahir pada tanggal 16 Desember 1873 di Toronto ibu kota Kanada. Ayahnya bernama Robert Jaffray seorang pekerja yang ulet dan tidak kenal menyerah yang berasal dari Skotlandia. Darah Skotlandia yang mengalir di dalam tubuhnya, berasal dari keturunan pekerja keras dan ulet, sehingga meski harus menghadapi tantangan yang berat dalam membangun usahanya, ia tetap kuat berdiri, hingga menjadi pengusaha sukses di Kanada. Dari latar keluarga seperti ini membuat Jaffray secara sosioekonomi bukan biasa-biasa saja, ia berasal dari keluarga yang terbilang kaya dan terhormat. Ayahnya, Robert Jaffray adalah seorang  pengusaha sukses yang bergerak dibidang percetakan dan asuransi dan sampai meninggalnya, Robert Jaffray masih dipercayakan sebagai senator di Kanada. Artinya, keputusan untuk menyerahkan diri masuk di ladang misi bukan didorong oleh maksud untuk mencari popularitas atau materi, melainkan sebuah keputusan yang sadar dan tulus untuk mengabdi di ladang misi.  Jaffray sadar bahwa akibat dari keputusan ini, ia harus berhadapan dengan tantangan yang sangat berat. Beberapa tantangan yang ia hadapi antara lain:

Pertama, tantangan dari diri sendiri, sejak kecil Jaffray memiliki bobot badan yang besar dan ia mengidap penyakit kelainan jantung dan diabetes. Itu sebabnya, orang yang mengenal Jaffray sulit percaya bahwa ia bisa hidup dan melayani di medan pelayanan yang berat dan berisiko tinggi. Tetapi, TUHAN telah membuat Jaffray yang memiliki fisik tidak prima menjadi orang yang hebat dalam pelayanan di ladang yang sangat ekstrim.

Kedua, tantangan dari keluarga. Sebagai orang tua, Robert Jaffray sudah mempersiapkan anak-anaknya, khususnya Jaffray dan kakaknya William untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis dengan susah payah, hingga berhasil. Namun, semua yang terjadi di luar dugaannya. Jaffray ternyata lebih memilih melayani sebagai misionaris di Tiongkok Selatan, dari pada melanjutkan bisnis yang telah dibangun oleh ayahnya. Keputusan ini, langsung menuai reaksi keras dari ayah dan kakaknya. Ayahnya sangat kecewa begitu juga dengan William saudara laki-lakinya. Robert Jaffray memutuskan untuk tidak memberi dukungan finansial kepada Jaffray jika ia tetap pergi ke Tiongkok Selatan. Akan tetapi, ancaman itu sama sekali tidak meredupkan keinginannya untuk menjadi misionaris di Tiongkok Selatan.

Ketiga, tantangan dari lingkungan pelayanan. Ketika terjadi perang  dunia Perancis menguasai Indo-Cina, orang-orang Perancis yang setia dan ingin menguasai Indo-Cina berusaha menjaga Indo-Cina seperti mereka menjaga negaranya sendiri. Akibatnya, para misionari diawasi secara ketat karena mereka dicurigai sebagai mata-mata Jerman. Pada tahun 1892 Rev. A.B.Simpson mengunjungi Tiongkok dan memimpin survey cepat tentang pekerjaan misi di negara itu. Ia mendapatkan bahwa propinsi Kwangsi, sebuah daerah yang terletak di Tiongkok Selatan yang luas serta padat penduduk, bukan saja belum mengenal Terang Injil, tetapi juga sangat menentang penyebaran agama Kristen. Dampaknya terhadap pelayanan misi, semua orang asing yang masuk ke wilayah ini dicurigai. Tentu dalam kesempatan yang sangat terbatas ini, kita tidak dapat menguraikan satu persatu tantangan yang dihadapi oleh para misionaris dan masih banyak tantangan lainnya yang sangat berat yang akan dihadapi oleh para utusan Injil ini. Namun, mereka tidak pernah gentar terhadap tantangan itu. Ketika, Jaffray datang ke Indonesia, ia juga harus berhadapan dengan tantangan yang sangat berat, khususnya dari penjajah Jepang  yang menguasai Indonesia pada waktu itu. Jaffray mengakhiri hidupnya di kamp intermiran Jepang pengungsian pada tanggal 29 Juli 1945.

2. Dalam hal keunggulan spiritualitas

Jangan ditanya soal spiritualitas Jaffray, karena ia telah terbiasa membangun hubungan yang sangat kuat dan intim dengan TUHAN sejak berusia muda. Pada usia enam belas tahun, Jaffray menyerahkan hidup sepenuhnya kepada TUHAN. Panggilan yang terpatri di dalam hatinya itu semakin jelas ketika ia menyerahkan diri untuk melayani TUHAN dan bersedia dibentuk di sekolah pelatihan misionaris yang didirikan oleh Rev. Albert Benyamin Simpson di New York. Sejak masa pembentukan di Sekolah Alkitab yang didirikan oleh Rev. Benyamin Simpson, Jaffray sudah terbiasa dengan disiplin rohani yang ketat. Dalam sejarah perjalanan misi Rev. Alexander Jaffray, ia tidak akan pernah bertindak mengeksekusi misi jika ia belum mendapat “konfirmasi” dari TUHAN yang meyakinkan dirinya untuk melaksanakan misi tersebut. Rev. Alexander Jaffray memiliki kecenderungan kuat untuk selalu bertindak atas keyakinan bahwa TUHAN, menginjinkan rencana misi itu dijalankan. Lin menulis, “Mereka semua mengakui betapa saleh hidupnya dan betapa ia mendalami kehendak TUHAN lebih daripada orang yang lain. jika pada saat awal bekerja masih belum tampak apa-apa, sesudah selesai bekerja, hasil yang menggembirakan pun dapat dilihat. Tidak mengherankan jika setiap orang yang mengenalnya akan merasa kagum karena ia memiliki minyak hikmat di atas kepalanya dan cinta kasih yang murni dalam hatinya sehingga ia mendapatkan kemengan dan kemuliaan yang tidak terhingga.” Seorang Sahabat di pengasingan Jepang yang menjadi akhir dari perjuangan misi Jaffray yang bernama Rev. F.R. Whetzel yang berasal dari utusan Injil Batjan Immanuel Mission. Whetzel adalah orang terakhir yang mendapat kesempatan untuk bercakap dengan Jaffray sebelum pada malam hari 29 Juli 1945, Jaffray menghembuskan nafas yang terakhir. Whetzel menulis, “Salah satu berkat yang besar dalam hidup saya adalah bahwa saya mendapat hak istimewa untuk ditawan bersama-sama dengan Dr. R.A. Jaffray di pulau Sulawesi. Saya mengasihi dia sebagai seorang besar dengan karunia penglihatan dan iman.” Inilah bukti keunggulan spiritualitas Jaffray.

3. Dalam menjalankan tugas kepemimpinan

Dalam hal kepemimpinan, Jaffray memiliki kemampuan yang mumpuni. Beberapa tugas penting yang ia emban semuanya dapat dilakukan dengan baik. sebagai seorang pemimpin yang yakin akan panggilannya, Jaffray tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang dapat memperluas layanan misi. Sebagai seorang pemimpin yang bersandar total pada kasih karunia Allah, Jaffray tidak pernah ragu dengan kondisi fisiknya yang lemah atau dengan kesulitan dana serta beratnya ladang misi yang dihadapi. Baginya kedaulatan Allah tidak dapat dibatasi oleh situasi dan kondisi yang paling berat dan paling ekstrim sekalipun. Salah satu contoh adalah pada waktu Jaffray mendirikan The Chinese Foreign Missionary Union (CFMU). Dalam lembaga inilah para misionaris muda dibentuk dan menjadi pembawa Obor Injil yang berdiri di garis depan pelayanan peabaran Injil. Dari badan misi ini berdirilah gereja-gereja yang kita kenal saat ini yaitu GPMII, Gepekris, dan GKAA yang tersebar dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Pulau Jawa, Pulau Bangka, sampai Belitung. Lin menulis, “Dr. Jaffray bukan saja dikenal sebagai seorang misionaris atau akademisi, melainkan juga seorang pemimpin yang hebat. Kepemimpinan beliau sangat menonjol, dan semua itu ditopang oleh karakter, kompetensi, dan kesediaannya untuk berkorban.”

4. Dalam menangkap, merumuskan dan mengeksekusi visi.

Kemampuan kepemimpinan seorang pemimpin bukan semata-mata terletak pada kemampuan retorikanya, melainkan bagaimana ia dapat mewujudkan visi menjadi kenyataan. Jika saat ini, ada gereja GPMII, Gepekris, GKAA, dan tentunya Gereja Kemah Injil Indonesia yang sudah memiliki sekitar 3000 jemaat, ini bukan terjadi dengan sendirinya, ada sebuah visi yang diyakini diberikan TUHAN untuk dilakukan oleh seorang Jaffray. Lin menulis, “Karena Rev. R.A. Jaffray memiliki hubungan yang erat dengan TUHAN, ia selalu mendapatkan inspirasi dan pandangan yang luar biasa. Bahkan, sebelum berangkat ke Hindia Belanda di Asia Tenggara, ia sudah mendapatkan sebuah visi baru.” Adrianus Harjanto, Ketua Umum MPH GKKA Indonesia berkomentar dipengantar buku yang ditulis oleh Stephen Lin dengan sangat indah menulis, “Visi yang mengglobal dan sentuhan hati beliau yang mendalam telah menggoreskan sebuah karya besar dalam bidang kepemimpinan.”

Penutup

Kini delapan puluh sembilan tahun sudah dilewati oleh Gereja yang merasakan langsung sentuhan pelayanan Jaffray, sebuah karya yang tidak akan pernah sirna dari bumi Pertiwi ini. Gereja Kemah Injil Indonesia, mungkin tidak pernah dibicarakan atau disebutkan dalam forum-forum besar di negeri ini, tetapi Gereja Kemah Injil Indonesia telah ikut mensukseskan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa. Dari pelayanan Jeffray saat ini banyak lahir para pemimpin baik di lingkungan gerejawi, pendidikan teologi dan pendidikan umum, perusahaan swasta, dan pemerintahan. Semua tidak lepas dari jasa pelayanan Rev. Alexander Jaffray.

Jaffray telah tiada, namun sejarah gereja akan mencatat namanya dan akan selalu diingat dari generasi ke generasi bahwa ada seorang yang rela meninggalkan kenyamanan hidup dan memberi diri melayani di daerah yang penuh dengan tantangan. Dari karya pelayanannya itu telah melahirkan pemimpin yang ikut berpartisipasi dalam pembangun bangsa tercinta ini. Kiranya, semangatmu, keberanianmu, terwariskan pada generasi ini dan akan datang. Selamat Ulang Tahun Gereja Kemah Injil Indonesia yang ke-89.

 

THE POWER OF VISION


THE POWER OF VISION (Maarjes Sasela)

Setiap orang adalah pemimpin, minimal ia adalah pemimpin bagi dirinya. Banyak pemimpin baik formal maupun non-formal, gagal menjalankan tugasnya karena mereka tidak memiliki visi yang jelas. Mereka tidak tahu akan dibawa kemana organisasi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang berjalan tanpa visi sama seperti orang buta menuntun orang buta. Visi bagi seorang pemimpin ibarat kompas yang menjadi petunjuk arah kemana nahkoda harus mengarahkan kapalnya. Kompas dapat menjadi salah satu indikator bagi nahkoda untuk membawa kapal sampai tujuan, begitu juga visi bagi seorang pemimpin. Dengan adanya visi, seseorang akan tahu cara berjalan menuju puncak karier, bisnis, politik, olahraga, seni, atau apapun bidang yang sedang digelutinya. Visi yang kuat tidak akan pernah di bawa mati, ketika sang visioner meninggal, visi itu akan tetap hidup sampai suatu ketika visi itu menjadi kenyataan.

Kita semua pasti ingat seorang visioner kulit hitam yang bernama Martin Luther King Jr. Dalam sebuah pidatonya yang sangat terkenal sampai hari ini diberi judul “I Have a Dream”. Pidato yang melegenda ini terkenal dengan pernyataannya yang berkata … “I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slaves owner will be able to sit down together at the table of brotherhood.” (Saya mempunyai mimpi, bahwa suatu hari di bukit yang memerah di Georgia, anak-anak dari bekas budak dan anak-anak dari bekas pemilik budak akan duduk bersama di meja persaudaraan). “I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the colour of their skin but by the content of their character. I have a dream today!” (Saya mempunyai mimpi bahwa keempat anak saya yang kecil suatu hari akan hidup di sebuah negara dimana mereka tidak dinilai dari warna kulitnya, melainkan oleh isi karakter mereka.) Ketika suatu ketika seorang senator berkulit hitam dan pernah menjadi warga Jakarta selama beberapa tahun bernama Barrack Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat pertama, yang bukan berkulit putih, semua teringat akan pidato inspiratif Dr. Martin Luther King di atas. Ia dan mungkin puluhan juta warga Amerika berkulit putih maupun yang berkulit warna lain tidak mengira bahwa impian Dr. King terwujud juga. Impian telah menjadi kenyataan!  (http://www.kompasiana.com)

Orang yang memiliki impian atau visi yang besar, tidak akan pernah berhenti berusaha sampai impiannya menjadi kenyataan, King memang tidak sampai melihat impiannya menjadi kenyataan. Dan mungkin saja pada waktu ia berkata “i have a dream” ada orang yang memandang dengan sebelah mata, sambil bergumam “minggu disiang bolong”. Akan tetapi, hari ini dunia dipaksa mengakui apa yang dikatakan oleh King benar-benar menakjubkan. Amerika tidak saja anak-anak bekas budak dan anak-anak pemilik budak bermain bersama, atau sekadar mendapat perlakuan yang sama dan tidak ada lagi orang dinilai dari warna kulit. Sejarah Amerika bahkan dunia mencatat seorang anak kulit hitam menjadi orang nomor satu di negara adidaya itu.

Banyak orang tidak menyangka bahwa suatu saat kata-kata yang mengandung visi itu menjadi kenyaatan. Sampai pada waktu Barak Husein Obama menjadi presiden Amerika dua periode semua orang baru mengakui bahwa suara kenabian King Jr adalah benar. King Jr, menyampaikan visinya pada 28 Agustus 1963, lima puluh tahun lalu. Pada waktu itu, King berpidato di hadapan sekitar 250 ribu orang kulit hitam yang berkumpul di depan monumen Abraham Lincoln di Kota Washington DC, Amerika Serikat. Ketika itu pula, hanya setengah abad lalu, masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat masih menjadi warga kelas dua. Di bagian selatan negara itu warga kulit hitam tidak boleh naik bus yang dinaiki oleh kulit putih, tidak boleh mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah kulit putih dan tidak boleh masuk restoran khusus untuk kulit putih.  Akan tetapi, 50 tahun kemudian impian King menjadi kenyataan.

Bagi seorang visioner, ini hal yang memang sangat mungkin terjadi, John Sculley, mantan direktur utama Pepsi dan Apple Computer berkata “Masa depan adalah milik mereka yang melihat kemungkinan-kemungkinan sebelum semuanya menjadi kenyataan.” Pembaca yang budiman, apa impian yang Anda harapkan suatu ketika jika bukan Anda maka anak atau anak-anak di negeri ini dapat mencapainya? Bermimpilah yang besar dan kerjakanlah dengan sepenuh hati dan  antusias maka impian itu pasti menjadi kenyataan. John C. Maxwell berkata, “Keberanian seorang pemimpin besar untuk memenuhi impiannya adalah berkat semangatnya bukan posisinya. Salam sukses dengan saya Maarjes Sasela!

 

 

 

ANTUSIASME


Sasela

Sasela

The Power Of Antusias

Kata Antusias itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu En dan Theos, en berarti di dalam dan Theos artinya Tuhan, dengan demikian antusias atau entheos ini mengandung arti di dalam Tuhan atau Tuhan di dalam kita. Dalam bahasa kita sehari kata antusia ini kemudian dihubungkan dengan semangat yang menyala-nyala untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Pemahaman ini sejalan dengan pengertian entheos tadi, dengan kata lain orang yang hidup di dalam Tuhan dan Tuhan hidup di dalam dirinya, pasti kita akan menjadi orang yang sangat antusias memiliki semangat atau keinginan atau minat yang tinggi untuk memandang hidup ini. sebagai angugerah yang tiada terhingga dari sang Pencipta luar biasa bukan?

Inilah kiranya yang menjadi alasan mengapa saya membuat blog ini dengan menggunakan nama antusias-men! Artinya marilah kita memandang hidup ini dengan penuh semangat dan berjuang untuk merubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak lupa saya mengucapkan Salam Kenal dan Salam jumpa bersama saya Marsse……………l
Diposkan oleh Maarjes Sasela Institute di 02.00

Kesaksian – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wakil (Gubernur) DKI Jakarta


Ahok.2

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Ahok (Gubernur) DKI Jakarta

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
http://yehudaministry.blogspot.com/2013/03/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-ahok.html

9 HUKUM MENUJU TRANSFORMASI HIDUP


018
Bacaan wajib bagi mereka yang ingin mengalami perubahan hidup yang radikal di dalam Kristus.
(Oleh: Maarjes Sasela)

PENGANTAR
Beberapa tahun terakhir ini banyak orang-orang menyebut kata transformasi. Mulai dari orang-orang yang berbicara mengenai kondisi negeri ini yang carut-marut, hingga orang-orang percaya yang berbicara mengenai keadaan dan keberadaan gereja-gereja yang hadir di bumi pertiwi ini. Hampir semua orang ingin berbicara tentang sebuah transformasi suatu bangsa yang bernama Indonesia, entah dipahami dengan benar atau tidak mengenai kata tranformasi ini. Demikian juga di kalangan gereja, baik gereja yang beraliran Pentakosta dan Kharismatik sampai kaum Injili ramai-ramai ingin bersuara agar terjadi transformasi Indonesia. Sampai disini kita tidak mempersoalkan hal itu, karena di negeri ini masih menghargai kebebasan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat. Agar tidak tersesat, sebaiknya dipahami dulu arti dan defini dari kata ini.

DEFINISI
Dalam bahasa Inggris kata ini disebut transformation yang berarti perubahan bentuk. Dalam KBBI disebut transformasi yang mengandung arti perubahan rupa, ini bisa juga dipahami sebagai perubahan bentuk, sifat, fungsi, dsb. Secara semantik, transformasi atau transformation ini berasal dari kata “trans” dan “form”. Trans berarti dari satu sisi ke sisi lainnya (across), atau melampaui (beyond). Form yang diterjemahkan sebagai bentuk. Dengan demikian maka transformasi dapat berati perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar. Dengan melihat definisi di atas maka kata transformasi lebih jauh dipahami sebagai perubahan dari dalam diri seseorang, sekelompok, atau masyarakat yang meluap ke dalam perilaku.

TINJAUAN TEOLOGIS
Ternyata kata transformasi memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan misi gereja. Dengan mengutip tulisan Vinay Samuel dan Chris Sugden, Ery Prasadja menulis “Transformasi adalah misi gereja (Mission ‘of the Church’ as transformation)”. Transformasi adalah Visi Tuhan mengenai gereja/masyarakat/bangsa (God’s vision of society). Transformasi adalah perubahan dari keberadaan/keadaan manusia yang bertentangan tujuan Tuhan (di dalam menciptakan manusia dan dunia ini) kepada keberadaan/keadaan dimana manusiamampu untuk menikmati kehidupan di dalam hubungan yang harmonis dengan Tuhan.(Yoh. 10:10; Kol. 3:8-15; Ef. 4:13).

Akan tetapi, konsep transformasi tidak sesederhana penjelasan di atas ini. Konsep transformasi sebagaimana dijelaskan oleh Ery Prasadja, bahwa; Konsep transformasi lebih luas dari konsep penginjilan. Konsep transformasi tidak membatasi diri dengan hanya mengubah manusia berdosa menjadi manusia lahir baru. Transformasi adalah mengubah atau mengembalikan manusia kepada harkat dan martabatnya sesuai dengan maksud Tuhan ketika manusia itu diciptakan. Transformasi mengembalikan manusia ke dalam keadaan di mana hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia lain, dengan masyarakat, dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri dipulihkan. … Fokus transformasi adalah (1) pemulihan harkat dan martabat individu manusia, dan (2) pemulihan hubungan/rekonsiliasi. Beranjak dari penjelasan di atas maka pertanyaan penting disini adalah:

DARI MANA TRANSFORMASI DIMULAI?
Semua menginginkan perubahan ke arah lebih baik, tapi pertanyaan pentingnya adalah dari mana kita mulai? Sampai kini, gereja terus berdoa agar terjadi transformasi di negeri tercinta ini. Itu baik, tapi saya berpikir lebih sederhana bahwa transformasi bangsa ini pasti akan terjadi bila dimulai dari: diri sendiri, dari hal-hal yang kecil, dari lingkungan dimana kita ada dan dari apa yang ada pada kita. Mengapa kita terlalu memikirkan yang terlampau besar, sedangkan hal-hal yang kecil terabaikan. Bukankah Alkitab berkata: “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”. Inilah alasan saya meyakini bahwa transformasi pada bangsa ini dapat terjadi jika kesadaran itu dimulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, lingkungan tempat kita tinggal, kerabat dan sahabat kita baru pengaruhnya akan sampai kepada bangsa ini. Sama halnya dengan misi, dimulai dari Yerusalem, kemudian ke Yudea, lalu Samaria baru kemudian merambat sampai ke ujung dunia (Kis. 1:8). Injil tidak akan pernah sampai ke ujung bumi jika tidak dimulai di Yerusalem dan dari satu orang yang bernama Kristus yang mempersiapkan dua belas rasul. Sekarang bukan satu negara dipulihkan, tetapi bangsa-bangsa dipulihkan. Tahun 2013, bangsa ini akan dipulihkan jika setiap orang percaya mau mulai melakukan transformasi diri.

MENUJU TRANSFORMASI HIDUP
Berikut saya akan sampaikan tentang langkah-langkah menuju tranformasi diri. Setiap orang bisa mengalaminya, ini adalah kabar gembira buat. Akan tetapi kabar buruknya, kita tidak akan pernah mengalami transformasi karena ada penghambat besar, yaitu “dosa”. Ini menjadipenghambat bagi kita untuk bisa berpikir benar, berbicara benar, dan bertindak atau bersikap benar. Berikut akan saya sampaikan jalur menuju transformasi diri:
Pertama, Semua Orang Berdosa; kita harus menyadari bahwa kita semua tidak terkecuali, semua berada dibawa natur dosa. Paulus dengan jujur menulis, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. (Rm. 3:23)
Kedua, Konsekwensi Dosa; akibat dari dosa maka konsekwensinya ada kita hidup dalam penderitaan fisik. Ini adalah warisan dari Adam dan Hawa bunda moyang kita yang dengan sengaja telah melnggar apa yang Tuhan larang. (Kej. 3:1-24). Tidak sampai disitu, pada akhirnya setiap orang harus memberi pertanggungan jawab atas segala yang ia perbuat dihadapan tahta pengadilan Allah. Paulus menulis, “Demikianlah setiap orang di antara akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”. (Rm. 14:12). Lalu pada akhirnya masing-masing akan menerima ganjarannya. Yang tidak membiarkan dirinya diubahkan oleh Kristus dan tetap hidup dalam dosa, ganjarannya adalah kematian abadi atau kebinasaan. Paulus menulis, “Upah dosa ialah maut, …” (Rm. 6:23a). Ini berita buruknya, tapi Anda tidak perlu kuatir masih ada waktu, Anda belum terlambat, karena masih ada berita baiknya. Pau;lus melanjutkan tulisannya, demikian “… Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. (Rm. 6:23b). Bagaimana caranya Anda sampai pada keyakinan akan hidup yang kekal itu? ini dia caranya:
Ketiga, Akuilah; bahwa kita orang berdosa dan kita membutuhkan juruselamat, yaitu Kristus Yesus Tuhan untuk menjadi Tuhan dan juruselamat pribadi Anda.
Kempat, Percaya; Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan itu baik, tetapi iblis juga percaya, bahkan Alkitab berkata ia gemetar saking percayanyanya. “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan juga percaya dan mereka gemetar”. (Yak. 2:19). Kalau demikian apa bedanya kepercayaan kita dengan kepercayaan setan dan antek-anteknya? Disini perbedaannya:
Kelima, Menerima; disinilah letak perbedaannya, setan percaya, tetapi dia tidak memperoleh kesempatan untuk menerima keselamatan di dalam Kristus. Kita masih memiliki kesempatan besar untuk percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Yohanes menulis demikian; “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya, dibri-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. (Yoh. 1:11-12).
Keenam, Jaminan (1); Setiap orang yang percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi-Nya, jaminannya adalah: menerima kepastian hidup yang kekal. Yohanes menulis, “Aku (Kristus) berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. (Yoh. 6:47)
Ketujuh, Jaminan (2) Berbicara tentang hidup yang kekal atau abadi di dalam surga maka di dalam Kristus tidak ada kata “mudah-mudahan” selamat, melainkan pasti. Ingat! PASTI SELAMAT bukan MUDAH-MUDAHAN SELAMAT, Yohanes menulis: “DAN Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”. (Yoh. 10:28).
Kedelapan, Dasar Keyakinan, Di dalam Kristus tidak ada kata mudah-mudahan untuk keselamatan hidup yang akan datang, melainkan PASTI. Mengapa? Didunia ini, banyak orang mencari jaminan keselamatan dan mereka akan berkata kepada Allah. “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar itu”. Ini adalah permohonan yang tulus dan berkenan kepada Allah/ Akan tetapi, apa jawabannya? Sampai hari ini, permohonan itu tetap terus disampaikan. Mengapa karena belum ada jawabannya. Pada lebih dari 2000 tahun ada rahasia yang masih terpendam bagi banyak mereka yang mencari kebenaran, dan saya merasa berdosa jika saya tidak berterus terang mengatakannya, bahwa jawabannya ada pada Yesus Kristus Tuhan kita. Yohanes menulis 2000 tahun yang lalu, kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa (Allah), kalau tidak melalui Aku”. (Yoh. 14:6)
Kesembilan, Buat Keputusan; Kita percaya bahwa Allah ada, itu baik, tetapi percaya saja tidak cukup karena setan pun percaya (Yak. 2:19). Lalu apa yang harus kita buat? Bertindaklah dengan iman untuk membuka hati dan menerima Dia (TUHAN Yesus Kristus) di dalam hati dan menjadikan-Nya menjadi penguasa tunggal dalam hidup kita. Atau dengan kata lain, menerima Dia (Yesus Kristus) menjadi satu-satu Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Yah, sekarang! n Alkitab berkata; “Demikian juga halnya dengan iman; Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”. Kita percaya, tetapi kita tidak bertindak untuk menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi kita, iman kita itu pada hakekatnya adalah mati. Alkitab menulis bahwa berita yang Anda baca ini adalah berita yang sangat baik, karena berita ini memberi petunjuk bahwa Yesus Kristus sedang berdiri dipintu hati Anda, dan Ia mengetuk sambil berkata: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wah. 3:20)

Kebenaran di atas ini mau menunjukkan bahwa peluang anugerah bagi saudara sedang terbuka dihadan Anda saat ini juga! Jika Anda percaya dan mau membuka pintu hati Anda untuk menerima-Nya menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda; sekaranglah waktunya! Jangan tunda! karena kita tidak tahu hari esok hidup kita akan menjadi seperti apa. Sekali lagi, JANGAN TUNDA! Bergegaslah cari seorang hamba Tuhan (pendeta atau gembala sidang Anda, atau pembimbing rohani Anda) pergilah kepadanya dan minta ia menuntun Anda untuk menerima Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda! Tetapi jika tidak, ambillah sikap iman Anda dan katakan dengan iman Anda, seperti doa berikut ini:

Katakanlah dengan iman Anda!
Tuhan Yesus, saya sudah membaca pelajaran ini dan saya percaya bahwa Engkau menyediakan anugerah hidup yang kekal kepada setiap orang yang mau percaya dan menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Hari ini, dengan sadar saya mengundang Engkau untuk masuk dan bertahta di dalam hati saya dan menjadi Tuhan dan Juruselamat saya pribadi mulai hari ini sampai Engkau datang menjemput saya. Dan catatlah nama saya dalam Kitab Kehidupan satu kali untuk selama-lamanya dan saya percaya alam maut tidak dapat merampas saya dari tangan-Mu. Ampunilah segala dosa dan kesalahan saya, dan biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa memimpin hidup saya dari sekarang sampai selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya berdoa dan percaya bahwa keselamatan telah terjadi di dalam hidup saya, Amin.

Anda baru saja menerima HADIAH HIDUP KEKAL yang tidak dapat diberikan dunia ini kepada Anda. Alkitab berkata: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia (Tuhan Yesus Kristus) akan datang dalam kemuliaan Bapa diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”. (Mat. 16:26-27). Puji Tuhan, sekarang saya harus berkata waooohhhh gitu lhooooo….. kepada Anda, karena Anda telah menerima HIDUP YANG KEKAL ITU. Selamat memasuki transformasi hidup yang sesungguhnya. Tuhan Yesus memberkati.

Bila Anda memiliki pertanyaan atau ingin dukungan doa dari kami, Anda dapat menghubungi saya di layanan telepo: 0813 55860 555 atau 0852 1313 1995 atau mengirimnya melalu e-mail: marsseljkt@yahoo.co.id dan jangan lupa beri komentar Anda di http://www.pilarsukses.wordpress.com Tuhan Yesus memberkati.

9 CARA CERDAS MENGGAPAI SUKSES DITAHUN 2013 (Oleh: Maarjes Sasela)


9 CARA CERDAS MENGGAPAI SUKSES DITAHUN 2013
(Oleh: Maarjes Sasela)

Ada yang tidak dapat kita hindari yang sedang terpampang di depan mata kita saat ini, yaitu bahwa tahun 2012 dengan semua kenangan manis atau pahit pasti akan berlalu. Dan ada pula yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun kecuali jika kematian menjemputnya sebelum memasuki tahun 2013. Kedua fakta ini adalah PASTI.
Lalu sebelum mengakiri tahun 2012 kita semua biasanya akan mengingat kenagnagan ditahun tersebut lalu ada yang dengan sadar melakukan evaluasi, introspeksi, atau koreksi diri. Ini tindakan yang sangat baik. Kita mulai memikirkan apa yang sudah kita lakukan baik yang bersifat untuk kepentingan diri dan keluarga (pekerjaan, karier, atau usaha) atau intuk pelayanan gereja dan kemanusiaan. Semua kita buat dengan harapan agar tahun 2013 nanti kita tidak mengulang kesalahan dan dapat berbuat jauh lebih baik dari tahun 2012. Baca lebih lanjut


Cerita, “Keberanian”

Suatu ketika seorang Indian muda, mendatangi tenda ayahnya. Di dalam sana, duduk seorang tua, dengan pipa panjang yang mengepulkan asap. Matanya terpejam, tampak sedang bersemadi. Hening. “Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?” tanya Indian muda itu memecahkan kesunyian disana. Mata sang Ayah membuka perlahan, sorot matanya tajam, memandang ke arah anak paling disayangi nya itu. Kepala suku itu hanya diam.

“Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok? Lihat, aku sudah mengasah pisauku. Kini semuanya tajam dan berkilat.” Tangan si kecil merogoh sesuatu dari balik kantung kulitnya. Sang Ayah masih diam mendengarkan. “Aku juga sudah membuat panah-panah untuk bekalku berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam. Busurku pun telah kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian pemberani yang hebat seperti Ayah. Ijinkan aku ikut Ayah.” Terdengar permintaan merengek dari si kecil.

Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang. Terdengar suara berat sang Ayah, “Apakah kamu sudah berani untuk berburu? “Ya!” segera saya terdengar jawaban singkat dari si kecil. “Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang paling hebat.” Sang Ayah tersenyum, “Baiklah, kamu boleh ikut besok, tapi ingat, kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?” Sang Indian muda mengangguk. Baca lebih lanjut